Filosofi Pendidikan Indonesia
Oleh: Nurul Syafriah
Konsep pendidikan yang pernah berjalan di Indonesia sudah mengalami banyak perubahan. Sejak zaman penjajahan, pendidikan hanya menjadi media bagi penjajah untuk mencapai tujuan dan ideologi kolonial mereka, mulai dari Portugis yang ingin menyebarkan agama Nasrani, Belanda yang ingin menguasai kepulauan Indonesia dan memonopoli usaha dagangnya, hingga Jepang yang hanya ingin memperkuat pertahanan mereka dalam peperangan. Semua alasan itu menjadikan rakyat Indonesia sebagai korban dari mimpi-mimpi dan cita-cita mereka. Tak pantas sekali membunuh kemerdekaan setiap individu hanya demi tercapainya tujuan yang tidak pernah disepakati bersama. Hingga muncul pergerakan pendidikan yang dilakukan oleh para pejuang pendidikan nasional. Pemberontakan mereka terhadap konsep pendidikan kolonial diwujudkan dengan membentuk lembaga pendidikan yang mendukung tercapainya cita-cita nasional, seperti Kweekschool yang didirikan oleh Bung Tomo, Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan, perkumpulan pemuda oleh Trikoro Dharmo, R.A. Kartini yang memperjuangkan hak perempuan, Dewi Sartika yang mendirikan Sakola Istri, sampai titik puncaknya ketika Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa.
Hingga sampai pada zaman kemerdekaan, dimulailah pembangunan konsep pendidikan di Indonesia mulai dari dasar secara lebih independen, tanpa campur tangan penjajah meskipun pada kenyataannya masih ada sistem kolonial yang terbawa ke dalam proses pelaksanaannya. Perbaikan dan pembangunan gedung sekolah, pendidikan untuk guru, penyusunan kurikulum, manajemen dan sistem pendidikan, dan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan menjadi hal-hal dasar yang dilakukan untuk mewujudkan pendidikan nasional. Nilai-nilai nasionalisme, sosialisme, dan agama menjadi nilai-nilai yang menjiwai berlangsungnya proses pendidikan yang ketika itu menjadi hak untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali.
Berlanjut ke masa orde baru yang menjadikan ekonomi sebagai tujuan utama pendidikan dengan memanfaatkan kebijakan administratif sebagai medianya. Keseragaman yang menjadi ide besar dalam kebijakan pendidikan, manajemen yang selalu terpusat tanpa mempertimbangkan keunikan setiap daerah dan unsur-unsur pendidikan yang memunculkan beberapa kritik, dan dimulainya pelatihan guru serta pendidik secara sistematis merupakan inti dari transformasi yang dilakukan pada masa ini.
Beberapa tahun berjalan, sampailah pada masa reformasi. Pada masa ini, kebijakan pendidikan menitikberatkan pada pendidikan yang reformatif dan revolusioner, kurikulum disusun berdasarkan kompetensi yang akan dicapai, pelaksanaan pendidikan yang mewadahi keberagaman, dan anggaran pendidikan menjadi anggaran negara terbesar. Hal ini menjadi bukti bahwa Indonesia benar-benar berjuang untuk meningkatkan kualitas masyarakatnya melalui pendidikan. Konsep kurikulum, mulai dari Suplemen Kurikulum 1999 sampai Kurikulum Merdeka, terus disempurnakan hingga saat ini demi terlaksananya pendidikan yang dapat membentuk manusia-manusia merdeka secara lahir maupun batin.
Refleksi dari Perjalanan Pendidikan Nasional

.png)